Bijih Besi, Salah Satu Jenis Besi Terunik

bijih besi salah satu jenis besi terunik

Pemanfaatan bijih besi cukup dominan dalam pembuatan baja

Presentase pemanfaatan salah satu jenis besi terunik, yaitu bijih besi dalam pembuatan baja mencapai angka 98%, dan Indonesia menjadi negara penghasil bijih besi paling banyak di antara negara-negara ASEAN. Tak heran, di Indonesia, tiap-tiap pulau nyaris ditemukan pertambangan bijih besi. Berikut ini macam-macam bijih besi : 

Baca Juga: Empat Rekomendasi Bahan Atap Anti Bocor Paling Bagus

Secara umum, macam bijih besi digolongkan menjadi 2 macam, yakni besi primer dan besi sekunder. Proses pembentukannya sendiri sangat kompleks karena dari satu jenis bijih bisa menghasilkan endapan yang berbeda.

Bijih Besi dan Karakteristiknya

Ingin tahu apa saja jenis bijih besi yang selama ini ada diolah? Yuk simak ulasannya dibawah ini.

Jenis Besi Primer

Bijih besi primer merupakan jenis besi yang terbentuk pada waktu peristiwa tektonik sebelum mineralisasi. Aktivitas tektonik itu membentuk struktur sesar atau celah yang memudahkan proses penerobosan batuan tua oleh intrusi magma. Dari proses tersebut, kemudian terjadi mineralisasi, alterasi, hingga replacement di bagian-bagian magma.

Saat membicarakan logam, termasuk besi, hampir tak terpisahkan dari proses alterasi. Proses tersebut melibatkan pengaruh suhu dan tekanan tinggi yang menyebabkan kondisi batuan terus memadatkan diri hingga ke bentuk terpadatnya.

Selain itu, perubahan tersebut juga disebabkan oleh panas dan bahan cair dari aktivitas magma. Kemudian terjadilah kontak metamorfosa dari batuan menjadi bijih besi. Dari bijih besi itu nantinya bisa diolah menjadi berbagai macam material dasar.

Bijih Besi Sekunder

Bijih besi sekunder merupakan salah satu jenis besi murni terbentuk karena endapan atau proses sedimentasi dari cebakan mineral alochton. Prosesnya sendiri dibantu oleh gerakan media cair, padat, maupun gas. Alhasil, tingkat kerapatannya pun beda-beda tergantung ketahanan kimiawi, kebebasan sumber, serta durasi pelapukan.

Berdasarkan data penelitian dari Padmangara, ada 4 jenis endapan bijih besi. Keempatnya bernama endapan placer, endapan lateritic, endapan sedimen, dan endapan metasomatik

  • Endapan Placer

Terjadinya endapan placer dipengaruhi oleh proses pelapukan, pengumpulan secara mekanik, serta desintegrasi. Kemudian dari paduan proses tersebut akan menghasilkan endapan fragmen mineral atau seringkali dikenal dengan istilah batuan rombakan.

Di Indonesia, endapan ini bisa dengan mudah dijumpai pada kawasan Yogyakarta. Terutama di areal pantai karena rata-rata mengandung mineral bernama titanomagnetit. Warnanya sendiri terlihat abu kehitaman dan mengilap.

  • Endapan Laterit

Kawasan yang mendukung terbentuknya endapan laterit rata-rata beriklim tropis-basah. Proses lateritisasi-nya sendiri memakan waktu cukup lama karena melibatkan serangkaian aktivitas seperti pelapukan, pengumpulan kimia, dan dekomposisi.

Mineral atau bijih besi ini biasanya terjadi pada batuan induk ultramafik. Adapun kawasan yang menjadi pusat terjadinya endapan laterit ada di Kalimantan dan Sulawesi Tenggara.

  • Endapan Sedimen

Proses kimiawi memiliki peranan vital dalam proses sedimentasi atau pengendapan. Ciri-ciri bijih besi ini bisa dijumpai pada struktur serta lapisan pelapisannya karena terlihat sangat jelas. Seringkali berafiliasi dengan bongkah batu dan kerikil peridotit.

Adapun untuk komposisi utamanya berasal dari karbonat, magnetit, hematite, serta silikat besi. Pada bijih besi yang bertipe “bog-iron” seringkali mengandung mangan dan belerang yang tinggi.

  • Endapan Metasomatik

Proses terjadinya endapan metasomatik dikarenakan naiknya larutan magma ke permukaan dalam suatu peristiwa intrusi maupun ekstrusi. Kemudian bereaksi dengan bebatuan di sekitar seperti batuan kapuran. Lalu terbentuklah mineral-mineral calon bijih besi seperti hematit dan magnetit.

Mineral tersebut biasanya berafiliasi dengan batu basalt, diorit, gabbro, serta granidiorit. Bijih besi ini bisa berbentuk lensa ataupun sarang pada batuan kontak. Kandungannya utamanya terdiri dari mineral sulfida. Lokasi yang memungkinkan terjadinya endapan metasomatik ada pada kawasan Sumatera dan Kalimantan.

Baca Juga: Mengenal Genteng Metal, Material Atap Rumah Modern

Ingin mengetahui artikel-artikel lain mengenai material besi atau baja lainnya? Klik di sini.

Bagikan Artikel :

Artikel Terkait

Menu