Mengenal Perbedaan Baja Konvensional dan Baja Ringan

Mengenal Perbedaan Baja Konvensional dan Baja Ringan KPS Steel distributor besi jakarta

Sebelum membangun sebuah bangunan, pemilihan material perlu dipahami betul. Termasuk perbedaan baja konvensional dan baja ringan. Jika dari namanya memang seolah hanya berdasarkan pada bobot saja. Namun lebih dari itu sifat lain keduanya juga tidak sama.

Baja ringan sengaja dibuat memiliki sifat tipis antara 0,4-1 mm, bobot rendah. Namun dari fungsi serta kegunaan sebanding dengan jenis konvensional. Dan tidak bisa dibandingkan mana lebih berkualitas.

Sifat pembeda tersebut dihasilkan sejak dimulainya proses pembuatan, termasuk penentuan komposisi bahan. Sengaja dibuat demikian supaya bisa dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan. Sebab setiap bagian bangunan memerlukan jenis khusus.

Antara atap dan pondasi tentu berbeda rangkanya. Fungsi atap dan pondasi juga berbeda dalam membentuk sebuah bangunan. Maka jangan sampai salah dalam membeli jika tidak ingin pekerjaan jadi terhambat.

Proses Pembentukan Baja Konvensional

Dari segi proses pembentukannya, baja konvensional dibentuk saat masih berwujud liquid atau cairan dengan suhu yang sangat panas. Cairan baja dimasukkan ke cetakannya menggunakan teknik tertentu. Dimana tekniknya tidak semua orang bisa melakukannya.

Perbedaan pertama ada pada proses pembentukan. Dimana baja ini dibentuk saat masih dalam wujud liquid atau cairan. Cairan ini memiliki suhu sangat tinggi dan hanya ahli saja yang dapat membuatnya menjadi padat.

Sedangkan jenis yang ringan disebut juga dengan canai dingin atau Cold Formed Steel. Dibentuk bukan pada saat cairan bersuhu tinggi lagi namun sudah dingin. Pembentukan lembaran atau pelat ini dilakukan menggunakan mesin jadi presisi ukurannya.

Massa jenis keduanya berbeda karena adanya perbedaan suhu pada saat pembentukan tersebut. Sifat ini sengaja dibentuk dengan tujuan masing-masing dalam penggunaannya dalam struktur bangunan.

Baca Juga: Manfaat Melakukan Curing Beton dan Ragam Metodenya

Komposisi Karbon Jenis Baja Konvensional dan Ringan

Perbedaan kedua ada pada komposisi karbon. Kandungan karbon baja ringan sangat rendah, kurang dari 0,3%, maka disebut juga dengan karbon rendah. Fungsi karbon sendiri adalah sebagai penguat elemen besi di dalamnya.

Besi sebagai unsur dasar didukung komposisi karbon lebih besar pada baja konvensional. Yaitu berkisar antara 0,30 sampai 1,70% dari keseluruhan beratnya. Komposisi ini berpengaruh besar terhadap kekuatan tariknya.

Namun bukan menunjukkan kualitas bahan saat digunakan. Sebab faktor lingkungan juga memiliki peran selain dari komposisi karbon dan besi. Dimana jenis konvensional lebih mudah getas dan kaku, kurang fleksibel.

Berbeda dengan jenis ringan yang cenderung fleksibel digunakan dalam berbagai ukuran. Bisa dipotong, dibentuk, dibengkokkan, disusun bersama dengan material lain. Serta bisa digunakan untuk kebutuhan skala kecil.

1. Kekuatan dan Daktilitas

Dari perbedaan komposisi karbon dan besi jelas bahwa kekuatan serta daya tarik jenis konvensional lebih tinggi dibanding yang ringan. Semakin kecil persentase karbonnya maka gaya tarik serta kekuatannya juga makin rendah.

Kondisi tersebut berpengaruh juga pada daktilitas. Daktilitas adalah ukuran kemampuan suatu material untuk terdeformasi plastis secara signifikan sebelum akhirnya pecah. Dibuktikan dengan meregangkannya menjadi seperti kawat.

Daktilitas jenis baja konvensional lebih rendah jika dibandingkan dengan jenis ringan. Berbanding terbalik dengan kegetasan, dimana jenis konvensional lebih tinggi dibanding jenis ringan.

Inilah yang menjadikan jenis ringan memiliki kemampuan adaptasi lebih tinggi. Mudah dibentuk, fleksibel, jadi bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk bangunan namun rangka lain. Contoh sebagai rangka rak kaca, untuk jendela dan pintu.

2. Ketahanan Terhadap Karat

Perbedaan yang tak kalah penting lainnya adalah ketahanan terhadap karat. Ini harus diperhatikan sebelum membeli. Jika mengharapkan struktur atau hasil lebih tahan terhadap karat maka belilah jenis baja ringan.

Ketahanan terhadap karat ini didukung oleh lapisan Alumunium, Zinc, Silicon serta unsur lain sebagai pelindung. Ada juga yang ditambah dengan bahan Zinium, selain menahan karat juga efektif melindungi dari korosi.

Homogenitas antara unsur Aluminium dengan Zinc terbentuk maksimal pada bahan baja ringan Zinium. Ditandai dengan tekstur mozaik, terbentuk homogen pada permukaan Zinium. Kondisi ini menjadikan baja ringan aman digunakan pada lingkungan rawan banjir rob.

Baja konvensional kurang tahan terhadap bahan korosif dan karat. Bukan berarti menjadikannya kekurangan, namun Anda hanya perlu menempatkannya secara tepat pada struktur bangunan. Sebab disisi lain kekuatannya lebih tinggi.

3. Berat

Dari namanya sudah jelas bahwa baja ringan tentu lebih ringan dibanding konvensional. Hal ini bisa dibuktikan sendiri dengan mengangkat keduanya secara bersamaan menggunakan kedua tangan.

Atas sifat ini maka dibedakan untuk tujuan penggunaan. Rangka dasar seperti pondasi atau bagian dinding perlu menggunakan jenis baja konvensional. Sedangkan bagian atap digunakan jenis ringan untuk mengurangi beban.

Selain itu bagian atap lebih mudah diangkut dari bawah dan meringankan pekerja. Bagian dasar bangunan tidak ada masalah menggunakan jenis konvensional sebab langsung menumpu pada tanah.

Baca Juga: 7 Cara Memilih Besi Beton yang Bagus

Baja ringan juga bisa dimanfaatkan untuk pembuatan perabotan dan perkakas lain. Sebab tidak memiliki bobot yang membebani saat dipindahkan, digeser dan sebagainya. Sehingga pemanfaatannya lebih luas.

Jika Anda tertarik untuk membeli beragam material besi bangunan, kunjungi laman produk KPS Steel dan hubungi kami untuk pemesanan. Kunjungi juga laman blog kami untuk mempelajari informasi terkini seputar dunia konstruksi.

Bagikan Artikel :

Artikel Terkait

Menu